$type=ticker$count=12$cols=4$cate=0$sn=0

$type=grid$count=4$ico=1$cate=0$rm=0$sn=0$cm=0

Tips Mengatasi Kekerasan Pada Anak



Beberapa tahun terakhir ini banyak kejadian di media massa mengenai kekerasan yang terjadi pada anak. Anak yang masih murni dan tidak berdosa harus menderita karena menerima perlakuan kasar dari orang tua maupun dari orang lain. Pengalaman ini akan membekas sepanjang hidupnya dan akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Anak adalah titipan Tuhan, Anda sebagai orang tua mempunyai tanggung jawab yang istimewa untuk membesarkan anak dalam dalam kasih sayang.

Seto Mulyadi, psikolog anak mengatakan bahwa jumlah kekerasan terhadap anak di Indonesia, dibandingkan dengan negara lain, semisal Inggris, tergolong cukup rendah. Tetapi ini tidak menunjukkan kenyataan sesungguhnya. “Di Inggris, orang sudah sadar melaporkan kekerasan terhadap anak, dan kasus-kasus itu tidak akan terlupakan. Di Indonesia memang jumlahnya lebih sedikit, tetapi mungkin faktanya lebih tinggi, karena banyak yang tidak berani mengungkap atau melapor, dan jika ada kasus akan ramai beberapa saat setelah itu hilang dan tak terulas tuntas. 

Karena, orang tidak peduli dan masih banyak orang menganggap melakukan kekerasan terhadap anak adalah hal lumrah. Ketika saya melakukan seminar-seminar ke berbagai daerah, banyak yang mengatakan kepada saya bahwa anak-anak ditempeleng dan dijewer itu biasa. Itu tidak benar, bahwa kekerasan pada anak adalah cara untuk mendisiplinkan anak,” papar Seto. Hal ini terjadi karena dalam masyarakat kita masih terdapat paradigma yang keliru. “Anak dianggap sebagai komunitas kelas bawah dan hak milik orang tua. Banyak orang tua mengatakan, ‘Ini anak saya! Saya didik dengan cara apa pun, itu adalah hak saya, Anda tidak berhak ikut campur!’ Itu salah.

Cara berpikir demikian harus dibalik, hak anak harus menjadi yang utama , yakni dilindungi orang tuanya. Bahkan, orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anaknya sanksi pidananya ditambah lagi, karena orang tua harus ada pada garda paling depan untuk melindungi anaknya,” ungkap Psikolog anak yang juga penanggungjawab Yayasan Nakula Sadewa. Kekeliruan lain yang kerap ada di pikiran orang tua adalah menganggap anak-anak sebagai manusia dewasa mini. Anak dianggap memiliki kekuatan yang sama dengan orang dewasa, sehingga akan kuat mendapat perlakuan dan benturan keras. Padahal, sesungguhnya, tidak demikian. Justru kekerasan yang diterima anak, sekecil apa pun dalam bentuk apa pun, baik fisik, mental, seksual, hingga penelantaran, bisa menimbulkan luka yang membahayakannya secara fisik dan mental. “Anak-anak itu ringkih sekali, fisik dan jiwanya. Kekerasan akan membentuk jiwa yang penuh perlawanan dan pemberontakan,” kata Seto Mulyadi.

Faktor-faktor yang mendukung terjadinya penganiayaan terhadap anak antara lain immaturitas/ketidakmatangan orang tua, kurangnya pengetahuan bagaimana menjadi orang tua, harapan yang tidak realistis terhadap kemampuan dan perilaku anak, pengalaman negatif masa kecil dari orang tua, isolasi sosial, problem rumah tangga, serta problem obat-obat terlarang dan alkohol. Ada juga orang tua yang tidak menyukai peran sebagai orang tua sehingga terlibat pertentangan dengan pasangan dan tanpa menyadari bayi/anak menjadi sasaran amarah dan kebencian.

Kekerasan pada anak antara lain :

1. Penyiksaan fisik

Segala bentuk penyiksaan fisik terjadi ketika orang tua frustrasi atau marah, kemudian melakukan tindakan-tindakan agresif secara fisik, dapat berupa cubitan, pukulan, tendangan, menyulut dengan rokok, membakar, dan tindakan - tindakan lain yang dapat membahayakan anak. Sangat sulit dibayangkan bagaimana orang tua dapat melukai anaknya. Sering kali penyiksaan fisik adalah hasil dari hukuman fisik yang bertujuan menegakkan disiplin, yang tidak sesuai dengan usia anak. Banyak orang tua ingin menjadi orang tua yang baik, tapi lepas kendali dalam mengatasi perilaku sang anak. Penyiksaan yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera serius terhadap anak, dan meninggalkan bekas baik fisik maupun psikis, anak menjadi menarik diri, merasa tidak aman, sukar mengembangkan trust kepada orang lain, perilaku merusak, dll. Dan bila kejadian berulang ini terjadi maka proses recoverynya membutuhkan waktu yang lebih lama pula.

2. Penyiksaan emosi

Penyiksaan emosi adalah semua tindakan merendahkan atau meremehkan orang lain. Jika hal ini menjadi pola perilaku maka akan mengganggu proses perkembangan anak selanjutnya. Hal ini dikarenakan konsep diri anak terganggu, selanjutnya anak merasa tidak berharga untuk dicintai dan dikasihi. Anak yang terus menerus dipermalukan, dihina, diancam atau ditolak akan menimbulkan penderitaan yang tidak kalah hebatnya dari penderitaan fisik. Bayi yang menderita deprivasi (kekurangan) kebutuhan dasar emosional, meskipun secara fisik terpelihara dengan baik, biasanya tidak bisa bertahan hidup. Deprivasi emosional tahap awal akan menjadikan bayi tumbuh dalam kecemasan dan rasa tidak aman, dimana bayi lambat perkembangannya, atau akhirnya mempunyai rasa percaya diri yang rendah.


Jenis-jenis penyiksaan emosi antara lain :

a. Penolakan , Orang tua mengatakan kepada anak bahwa dia tidak diinginkan, mengusir anak, atau memanggil anak dengan sebutan yang kurang menyenangkan. Kadang anak menjadi kambing hitam segala problem yang ada dalam keluarga.

b. Tidak diperhatikan , Orang tua yang mempunyai masalah emosional biasanya tidak dapat merespon kebutuhan anak-anak mereka. Orang tua jenis ini mengalami problem kelekatan dengan anak. Mereka menunjukkan sikap tidak tertarik pada anak, sukar memberi kasih sayang, atau bahkan tidak menyadari akan kehadiran anaknya. Banyak orang tua yang secara fisik selalu ada disamping anak, tetapi secara emosi sama sekali tidak memenuhi kebutuhan emosional anak.

c. Ancaman , Orang tua mengkritik, menghukum atau bahkan mengancam anak. Dalam jangka panjang keadaan ini mengakibatkan anak terlambat perkembangannya, atau bahkan terancam kematian.

d. Isolasi , Bentuknya dapat berupa orang tua tidak mengijinkan anak mengikuti kegiatan bersama teman sebayanya, atau bayi dibiarkan dalam kamarnya sehingga kurang mendapat stimulasi dari lingkungan, anak dikurung atau dilarang makan sesuatu sampai waktu tertentu.

e. Membiarkan anak terlibat penyalahgunaan obat dan alkohol, berlaku kejam terhadap binatang, melihat tayangan porno, atau terlibat dalam tindak kejahatan seperti mencuri, berjudi, berbohong, dan sebagainya. Untuk anak yang lebih kecil, membiarkannya menonton adegan-adegan kekerasan dan tidak masuk akal di televisi termasuk juga dalam kategori penyiksaan emosi. 

Penyiksaan emosi sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik. Dengan begitu, usaha untuk menghentikannya juga tidak mudah. Jenis penyiksaan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak seperti tiba-tiba membakar barang atau bertindak kejam terhadap binatang, beberapa melakukan agresi, menarik diri. Penyiksaan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak seperti tiba-tiba membakar barang atau bertindak kejam terhadap binatang, beberapa melakukan agresi, menarik diri, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.

3. Pelecehan seksual

Sampai saat ini tidaklah mudah membicarakan hal ini, atau untuk menyadarkan masyarakat bahwa pelecehan seksual pada setiap usia – termasuk bayi - mempunyai angka yang sangat tinggi. Bahkan Hopper (2004) mengemukakan bahwa hal ini terjadi setiap hari di Amerika Serikat. Pelecehan seksual pada anak adalah kondisi dimana anak terlibat dalam aktivitas seksual dan anak tersebut sama sekali tidak menyadari, dan tidak mampu mengkomunikasikannya, atau bahkan tidak tahu arti tindakan yang diterimanya. Semua tindakan yang melibatkan anak dalam kesenangan seksual masuk dalam kategori ini:

a. Pelecehan seksual tanpa sentuhan. Termasuk di dalamnya jika anak melihat pornografi, atau eksibisonisme, dsb.

b. Pelecehan seksual dengan sentuhan. Semua tindakan anak menyentuh organ seksual orang dewasa termasuk dalam kategori ini. Atau adanya penetrasi ke dalam vagina atau anak dengan benda apapun yang tidak mempunyai tujuan medis.

c. Eksploitasi seksual. Meliputi semua tindakan yang menyebabkan anak masuk dalam tujuan prostitusi, atau menggunakan anak sebagai model foto atau film porno.

d. Ada beberapa indikasi yang patut kita perhatikan berkaitan dengan pelecehan seksual yang mungkin menimpa anak seperti keluhan sakit atau gatal pada vagina anak, kesulitan duduk atau berjalan, atau menunjukkan gejala kelainan seksual.

Efek pelecehan seksual , banyak sekali pengaruh buruk yang ditimbulkan dari pelecehan seksual. Pada anak yang masih kecil dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll. Pada remaja, mungkin secara tidak diduga menyulut api, mencuri, melarikan diri dari rumah, mandi terus menerus, menarik diri dan menjadi pasif, menjadi agresif dengan teman kelompoknya, prestasi belajar menurun, terlibat kejahatan, penyalahgunaan obat atau alkohol.

4. Pengabaian terhadap anak termasuk penyiksaan secara pasif, yaitu segala ketiadaan perhatian yang memadai, baik fisik, emosi maupun sosial. Pengabaian anak banyak dilaporkan sebagai kasus terbesar dalam kasus penganiayaan terhadap anak dalam keluarga.

Jenis-jenis pengabaian anak:

a. Pengabaian fisik merupakan kasus terbanyak. Misalnya keterlambatan mencari bantuan medis, pengawasan yang kurang memadai, serta tidak tersedianya kebutuhan akan rasa aman dalam keluarga.

b. Pengabaian pendidikan terjadi ketika anak seakan-akan mendapat pendidikan yang sesuai padahal anak tidak dapat berprestasi secara optimal. Lama kelamaan hal ini dapat mengakibatkan prestasi sekolah yang semakin menurun.

c. Pengabaian secara emosi dapat terjadi misalnya ketika orang tua tidak menyadari kehadiran anak ketika ´ribut´ dengan pasangannya. Atau orang tua memberikan perlakuan dan kasih sayang yang berbeda diantara anakanaknya.

d. Pengabaian fasilitas medis. Hal ini terjadi ketika orang tua gagal menyediakan layanan medis untuk anak meskipun secara finansial memadai. Dalam beberapa kasus orang tua memberi pengobatan tradisional terlebih dahulu, jika belum sembuh barulah kembali ke layanan dokter.

Efek pengabaian anak , Pengaruh yang paling terlihat adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak. Bayi yang dipisahkan dari orang tuanya dan tidak memperoleh pengganti pengasuh yang memadai, akan mengembangkan perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab (Hurlock, 1990), dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang.

Disamping segala bentuk penganiayaan yang dialami anak ,ada beberapa hal yang mempunyai andil dalam besar / kecilnya dampak yang diderita anak, antara lain:

1. Faktor usia anak. Semakin muda usia anak maka akan menimbulkan akibat yang lebih fatal.

2. Siapa yang terlibat. Jika yang melakukan penganiayaan adalah orang tua, ayah atau ibu tiri, atau anggota keluarga maka dampaknya akan lebih parah daripada yang melakukannya orang yang tidak dikenal.

3. Seberapa parah. Semakin sering dan semakin buruk perlakuan yang diterima anak akan memperburuk kondisi anak.

4. Berapa lama terjadi. Semakin lama kejadian berlangsung akan semakin meninggalkan trauma yang membekas pada diri anak.

5. Jika anak mengungkapkan penganiayaan yang dialaminya, dan menerima dukungan dari orang lain atau anggota keluarga yang dapat mencintai, mengasihi dan memperhatikannya maka kejadiannya tidak menjadi lebih parah sebagaimana jika anak justru tidak dipercaya atau disalahkan.

6. Tingkatan sosial ekonomi. Anak pada keluarga dengan status sosial ekonomi rendah cenderung lebih merasakan dampak negatif dari penganiayaan anak.

7. Dalam beberapa kasus anak-anak yang mengalami penganiayaan tidak menunjukkan gejala-gejala seperti diatas. Banyak faktor lain yang berpengaruh seperti seberapa kuat status mental anak, kemampuan anak mengatasi masalah dan penyesuaian diri. Ada kemungkinan anak tidak mau menceritakannya karena takut diancam, atau bahkan dia mencintai orang yang melakukan penganiyaan tersebut. Dalam hal ini anak biasanya menghindari adanya tindakan hukum yang akan menimpa orang- orang yang dicintainya, seperti orang tua, anggota keluarga atau pengasuh.

Menghindari dan mengatasi kekerasan pada anak bisa dilakukan dengan ,

1. Perlakukanlah anak dengan sabar, keramahan, sopan santun dan penuh dengan pengampunan dan ketika anak berbuat baik jangan segan untuk memujinya.

2. Sebelum kekerasan terjadi orang tua harus memiliki kedekatan dengan anak sehingga bila ada masalah ia akan bercerita apapun kepada orang tuanya. Jelaskan secara gamblang bagaimana orang lain akan membujuk anak dengan makanan seperti permen, mainan atau uang. Berikan pengertian dan pemahaman perbuatan yang sering dilakukan pelaku agar terhindar dari kekerasan. Bila kekerasan sudah terjadi dan anak menceritakannya sikap tenang diperlukan untuk tidak memarahi serta menyalahkannya. Tindakan yang berlebihan tidak akan menolong tetapi akan membuatnya takut dan sedih. Suasana yang nyaman dan penuh pengertian akan membuat anak dapat berbicara. Si pelaku adakalanya mengancam anak untuk tidak memberitahu ke orang tua, yakinkan dengan kasih bahwa Anda akan menolong supaya tidak ada kekerasan lagi.

3. Ada banyak kejahatan seksual terjadi belakangan ini, saatnya menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh dengan cara yang tidak wajar. Ajarkan untuk menolak perbuatan tidak senonoh pada anak dan dengan segera tinggalkan tempat di mana sentuhan itu terjadi. Ingatkan anak untuk berusaha mencari perhatian dari orang di sekitar tempat tersebut dan segera ceritakan kejadiannya pada orang tua.

4. Kekerasan dapat terjadi pada siapa pun baik anak laki-laki maupun perempuan. Sang pelaku biasanya yang sudah dikenal dan dipercayai anak , bisa saja saudara, guru , teman dekat keluarga atau bahkan teman sepermainan anak di lingkungan sekolah atau rumah . Bila orang tua menangani kekerasan dengan cara yang benar akan menolong anak mengatasi dampak dari peristiwa tragis yang mereka alami.

5.Selalu amati perilaku anak , jika terjadi kekerasan secara fisik, psikis (emosional) dan seksual pada anak di sekitar anda , segera laporkan kepada pihak berwenang yaitu Ketua RT/RW , babinkamtibmas di sekitar lingkungan anda dan Pihak Kepolisian terdekat . Guna diambil langkah hukum bagi si tersangka, sedangkan bagi korban kekerasan harus segera mendapatkan bantuan ahli medis serta dukungan dari keluarga.

6. Kekerasan menyebabkan perkembangan fisik dan psikis dari korban terguncang dibutuhkan penyembuhan untuk memupuk rasa percaya diri dan bangkit dari keterpurukan. Anak-anak yang telah mengalami kekerasan memerlukan kasih dan perhatian yang ekstra dari lingkungannya. Kepedulian dan keramahan dari saudara, teman-teman dan guru sangat dibutuhkan demi membantu anak mengatasi traumanya guna menata kehidupan di masa depan.

Name

38 Setia,148,Berita Pilihan,4,figur bicara,37,LUAR NEGERI,19,Nasional,415,Sejarah,9,Tips,17,Umum,46,
ltr
item
38 Setia: Tips Mengatasi Kekerasan Pada Anak
Tips Mengatasi Kekerasan Pada Anak
https://2.bp.blogspot.com/-R0UKTRVLCjQ/WBCn4HO9TOI/AAAAAAAAAh8/NEGplMuPO5AjUvbkH1toUoFC8wM7vMCqwCEw/s320/penyebab-kekerasan-terhadap-anak.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-R0UKTRVLCjQ/WBCn4HO9TOI/AAAAAAAAAh8/NEGplMuPO5AjUvbkH1toUoFC8wM7vMCqwCEw/s72-c/penyebab-kekerasan-terhadap-anak.jpg
38 Setia
http://www.38setia.com/2016/10/tips-mengatasi-kekerasan-pada-anak.html
http://www.38setia.com/
http://www.38setia.com/
http://www.38setia.com/2016/10/tips-mengatasi-kekerasan-pada-anak.html
true
1959138953113151983
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content