$type=ticker$count=12$cols=4$cate=0$sn=0

$type=grid$count=4$ico=1$cate=0$rm=0$sn=0$cm=0

Jepang: Budaya, Kultur, dan Disiplin yang Ditanamkan (Part 1)


Jepang: Budaya, Kultur, dan Disiplin yang Ditanamkan

Jepang, adalah salah satu Negara maju di Asia Pasifik, Asia, bahkan dunia. Historis yang kelam tak menjadikan Jepang sebagai Negara yang miskin dan tak berkembang, justru mereka mampu untuk menjadi negara maju, baik industri, pendidikan dan kebudayaannya, serta mampu menjadi salah satu negara dengan penghasilan terbesar, dan trendsetter di dunia.
Jepang sangat terkenal dengan budayanya yang santun, ramah, serta teratur, sangat menghargai waktu, serta etos kerja yang tinggi. Kesadaran masyarakat yang cukup tinggi dalam segala hal, membuat mereka sangat berkomitmen dengan aturan yang mereka buat sendiri. Hal itulah yang saya rasakan ketika mengikuti kegiatan Kunitoku atau Police Comparative System yang telah berjalan selama 17 tahun ini sejak tahun 2000 atau ketika reformasi didengungkan oleh masyarakat Indonesia.

“Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah  anda”

Menutup diri untuk menjadi lebih baik?

Kenyataannya, sikap masyarakat Jepang yang cenderung menutup diri dari kebudayaan luar, dan memilih mempertahankan nilai nilai luhur budayanya sendiri menjadikan kesan yang begitu menggoda bagi saya Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai Jepang, kebudayaan, serta masyarakatnya. Sedikit kesombongan namun berbuah hasil yang luar biasa, mereka menjadi trend setter bagi model maupun hal hal lain baik industri maupun teknologi, sehingga menjadikan masyarakat luar yang berkunjung ke Jepang menjadi tertarik Untuk mempelajari kebudayaannya secara lebih lanjut. Sistem penataan kota yang baik, ditunjang oleh budaya untuk selalu menjaga lingkungannya lebih bersih, memanfaatkan sumber daya secara maksimal dan tidak boros baik dalam ruang lingkup energi maupun tata ruang, menjadikan poin tambahan bagi masyarakatnya dimata dunia internasional.
Hal itu juga tak terlepas dengan etos kerja yang tinggi untuk secara disiplin menaati waktu yang ada, terlepas dari kekakuan dan kerigidannya, memang ada sesuatu hal yang positif maupun negatif didalamnya. Namun menurut saya hal yang positif itulah yang harus kita pelajari lebih lanjut, akulturasikan dengan kebudayaan Indonesia, sehingga membuat Indonesia menjadi Negara yang lebih maju ditunjang oleh Sumber daya alam yang luar biasa, serta kemampuan untuk memanfaatkan dengan baik untuk menjadi sumber kekuatan bangsa Indonesia.
Era keterbukaan informasi tak memaksa Jepang untuk terlalu larut dalam hal tersebut, bahkan mereka masih menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma yang ada di masyarakatnya dengan baik, melindungi informasi, dan lain sebagainya. Karena mereka tahu sesungguhnya bahwa keterbukaan informasi bisa menjadi sebuah hal yang negatif bagi mereka. Begitu banyak dan mudahnya manusia melakukan penjiplakan terkait hak cipta, pembajakan, maupun pencurian akses keamanan data, menjadi sebuah pemikiran yang luar biasa yang dimiliki oleh masyarakat Jepang.

Budaya

Disamping itu kebudayaan yang dimiliki oleh Jepang sangatlah luar biasa, mereka tetap menjaga warisan budaya leluhurnya dengan sangat baik sekali, bahkan mengelola dan mengolahnya menjadi lebih baik lagi dan tourism-able. Banyak kita lihat dan jumpai kuil - kuil kuno, yang menjadi salah satu obyek wisata favorit, bahkan di wilayah prefektur Osaka yaitu Kyoto, kuil - kuil yang ada tetap dijaga kelestariannya dengan baik, tidak berubah sedikitpun walau di tempat yang strategis, dan hal itu justru menimbulkan attraction bagi tourist - tourist di seluruh dunia.
Salah satu yang terkenal dan sudah kami kunjungi adalah Fushimi-Inari, kuil yang terletak tepat di tengah pusat kota Kyoto (Fushimi Ward), yang merupakan perwujudan kepala dewa Inari, di wilayah pegunungan yang juga disebut sebagai gunung Inari yang berada 233 meter diatas permukaan laut. bangunan - bangunan pilar kuil yang berwarna oranye menjadikan kuil tersebut sangatlah indah untuk dipandang serta dijadikan salah satu objek yang luar biasa untuk berfoto.
Budaya lain yang dibudidayakan bukan hanya berwujud bangunan saja, melainkan budaya di dalam masyarakat Jepang sangatlah indah dan terus dilestarikan dari satu generasi ke generasi, lima budaya yang terus berjalan turun temurun dengan baik walau tidak ada aturan yang mengatur adalah antri, mengucapkan terima kasih, menyapa, tepat waktu, dan menunduk. Hal tersebut didukung oleh sopan santun yang sangat luar biasa bagi mereka, kebiasaan ketika masuk ke dalam lift, orang yang terdekat dengan tombol lift langsung siap sedia menjaga tombol dan mengatur pergerakan orang yang keluar masuk lift, menjaga agar pintu tidak cepat tertutup, dan lain sebagainya.
Begitu juga dengan budaya jalan kaki, bagi sebagian daerah di Jepang pada saat menaiki tangga mereka selalu berada di sisi sebelah kiri atau kanan, sehingga memudahkan bagi pejalan kaki yang akan mendahului atau bergegas untuk berjalan dalam mengejar waktu.
Demikian juga ketika mereka akan menaiki kereta sebagai salah satu moda transportasi andalan untuk mengurangi angka kemacetan lalu lintas, sebelum kereta datang mereka sudah berbaris dengan rapi di setiap antrian yang sudah ditetapkan, mendahulukan bagi mereka yang akan turun dari kereta terlebih dahulu, baru kemudian masuk secara bergantian ke dalam kereta. Sungguh pemandangan yang indah dan menyejukkan melihat mereka sangat disiplin, menghormati dan menghargai sesamanya dengan baik walau tidak ada yang melihat dan mengatur secara ketat atau bahkan mengawasi terus menerus.
Budaya - budaya inilah yang membuat Jepang layak dijadikan panutan bagi warga masyarakat di belahan dunia manapun khususnya di negara tercinta kita Indonesia, tak jarang kita jumpai di Indonesia orang tidak saling mempedulikan ketika mereka berjalan, mengantri untuk membeli sesuatu, bahkan ketika akan menaiki bus atau kereta kita saling berebutan seolah kuatir tidak mendapatkan tempat, tanpa menyadari sebuah resiko yang harus ditanggung oleh kita apabila datang terlambat dan tidak mendapatkan transportasi untuk bepergian lebih jauh.
Hal lain lagi ketika melihat sebuah antrian kendaraan, ketika berada di jam - jam padat, mereka tetap disiplin berada dalam antriannya, tidak saling berebutan, bahkan mendahulukan kendaraan yang seharusnya didahulukan dalam sistem lalu lintas jalan.

“Mereka tetap menjaga kebudayaan yang dimiliki leluhurnya dengan baik, bahkan mengelolanya menjadi sebuah tempat yang menarik dan tourismable”


Disiplin

Ketika anda melihat kata “shitsuke” (yang berarti disiplin dalam bahasa Jepang), dalam kamus Koujien, anda akan melihat empat definisi, (1) untuk mempersiapkan sesuatu secara sengaja atau terlebih dahulu, (2) untuk menanam bibit tanaman dalam garis lurus, (3) untuk mengembangkan perilaku baik dan norma kesopanan melalui instruksi dan pelatihan, dan (4) untuk menjelujur ; menjahit dengan longgar menggunakan jahitan yang besar untuk sementara menahan lapisan bahan dari pabrik menjadi satu. Sebagaimana yang kita lihat, garis besar dari keseluruhan pengertian yang terdapat diatas adalah “untuk mempersiapkan secara lebih baik dalam rangka untuk mencegah segala sesuatunya menjadi tidak baik atau rusak.”


Mungkin sebagian besar masyarakat Jepang melihat definisi ketiga sebagai pengertian sebenarnya ketika mereka membicarakan tentang “shitsuke”; walaupun begitu, ada pendapat ahli yang melihat harfiah dari pengertian ini justru sebagai pengertian yang keempat “untuk menjelujur.” Jelujur biasa digunakan sebagai perekat sementara pakaian yang akan dijahit, dan dilepas ketika jahitan utamanya telah terpasang. Apa poin dari semua itu? Bahwa menjelujur akan digunakan selama sementara saja untuk merekatkan sesuatu hal yang harusnya melekat dan akan tidak terpakai ketika semuanya telah
sempurna. Kedisiplinan yang diberikan kepada anak pun demikian, orangtua akan melakukan pengawasan melekat dan instruksi secara verbal maupun non verbal, menjadi panduan bagi perkembangan mereka dalam rangka menumbuhkan kesadaran secar rutin dan pola perilaku anak tersebut. Begitupun ketika “perilaku menjelujur” bagi orang tua kepada anaknya, akan tidak diperlukan lagi seiring berjalannya waktu ketika anak menjadi mampu untuk mengatur sendiri pola perilaku disiplin secara rutin menurut mereka.
Penanaman disiplin sejak dini inilah yang menjadikan tingkat kematangan dan level disiplin bagi masyarakat Jepang yang berada diatas rata - rata, bahkan merata, penanaman karakter inipun tidak hanya dari keluarga namun juga sampai dengan level pendidikan mereka di tingkat dasar, menengah sampai lanjutan. Modern namun tak menghilangkan budaya, dan karakter dasar positif, itulah yang seharusnya kita tiru.

Bersambung ....
Name

38 Setia,148,Berita Pilihan,4,figur bicara,37,LUAR NEGERI,19,Nasional,415,Sejarah,9,Tips,17,Umum,46,
ltr
item
38 Setia: Jepang: Budaya, Kultur, dan Disiplin yang Ditanamkan (Part 1)
Jepang: Budaya, Kultur, dan Disiplin yang Ditanamkan (Part 1)
https://2.bp.blogspot.com/-oRD6iE1-n6g/WjXWbW7EVII/AAAAAAAAHOY/8hTsJzeCy8wLwvitxnoUDx_8O7Gr9ZH9QCLcBGAs/s320/Screenshot_20171216-140314_1.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-oRD6iE1-n6g/WjXWbW7EVII/AAAAAAAAHOY/8hTsJzeCy8wLwvitxnoUDx_8O7Gr9ZH9QCLcBGAs/s72-c/Screenshot_20171216-140314_1.jpg
38 Setia
http://www.38setia.com/2017/12/jepang-budaya-kultur-dan-disiplin-yang.html
http://www.38setia.com/
http://www.38setia.com/
http://www.38setia.com/2017/12/jepang-budaya-kultur-dan-disiplin-yang.html
true
1959138953113151983
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content