$type=ticker$count=12$cols=4$cate=0$sn=0

$type=grid$count=4$ico=1$cate=0$rm=0$sn=0$cm=0

Teror di Selandia Baru: Persoalan Islamophobia atau Imigran?




Penulis :
Kompol Malvino Edward Yusticia, SH, SIK, MH, MSS
Kanit Resmob Polda Metro Jaya
(Alumni Master of Strategic Studies, Victoria University of Wellington, Selandia Baru)

Hari Jumat (15/3/2019) kemarin, bisa dikatakan sebagai hari terkelam dalam sejarah negeri damai Selandia Baru. Sebagai orang yang pernah belajar dan tinggal di Selandia Baru, tragedi yang menyelimuti Selandia Baru pasca terjadinya aksi penembakan terhadap komunitas Muslim di Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood, di kota Christchurch membawa duka tersendiri dalam batin saya. Selama studi di Selandia Baru, saya pun pernah mengunjungi Kota Christchurch, sebuah kota yang membuat saya terkesan akan kedamaian dan kenyamanannya, serta keramahan warganya yang seolah berpadu dengan udara dingin kota tersebut. Selandia Baru saya kenal sebagai negara sangat aman dan nyaman untuk ditinggali, untuk menggambarkan betapa amannya hidup di sana, mobil yang terparkir di pinggir jalan tanpa dikunci pun tidak akan hilang atau dicuri orang. Angka kriminalitas nyaris tidak ada karena sangat sedikitnya kasus. Jika ada satu kasus kriminalitas, maka stasiun televisi di sana akan menyiarkan satu kasus tersebut selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Data Global Peace Index 2018 menempatkan Selandia Baru sebagai negara terdamai setelah Islandia. Selandia Baru pun merupakan negara dalam daftar lima teratas dengan tingkat keamanan tertinggi di dunia.
    Aksi penembakan brutal pada Jumat yang lalu di dua masjid di Selandia Baru sontak membuat saya terkejut dan bertanya-tanya: bagimana aksi teror yang memakan begitu banyak korban jiwa tersebut tiba-tiba terjadi di Selandia Baru? Sepengetahuan saya, kehidupan antarwarga di sana pun cukup harmonis dan bisa dikatakan masyarakatnya menjunjung asas multikulturalisme. Negara itu pun hampir tidak pernah menjadi sasaran serangan terorisme. Lalu apa yang terjadi pada negeri damai tersebut? Ada apa dengan aksi teror yang menyerang Selandia Baru?

    Dalam aksi penembakan di Christchurch sendiri, diketahui pelakunya merupakan pria 28 tahun berwarga negara Australia bernama Brendon Tarrant. Atas aksi biadabnya yang tak berperikemanusiaan yang membantai orang yang sedang beribadat saat salat Jumat, menjadikannya sebagai pembantaian terkeji yang pernah terjadi di Selandia Baru dengan memakan korban 49 nyawa dan sedikitnya melukai 20 orang. Aksi teror dengan jumlah korban menempuh angka 40 orang terakhir kali terjadi pada tahun 1943 dalam situasi terjadinya Perang Dunia II di penjara Featherston. Saat itu penjaga kamp penahanan tahanan perang Jepang menembak dan membunuh 48 tahanan.

Motif dan Ideologi Pelaku
Brendon Tarrant merilis dokumen manifesto yang menjelaskan motif di balik aksi teror yang ia lancarkan di dua masjid di Selandi Baru. Manifesto berjudul "The Great Replacement" memuat ideologi konspirasi sayap kanan yang mewaspadai ancaman imigran non-kulit putih akan menggeser dominasi orang kulit putih. Manifesto tersebut mengambil inspirasi dari gerakan ekstrimis sayap kanan dan rasialis. Manifesto setebal 74 halaman yang diunggah sebelum penembakan mengkampanyekan pandangan tentang supremasi kulit putih, ide antiimigran, dan anti-Muslim. Pelaku menegaskan motif di balik aksi penembakan massal untuk menciptakan ketakutan sekaligus menghasut kekerasan terhadap umat Muslim. Alasan lain dari motivasinya melakukan penyerangan di masjid karena ingin membalas dendam kepada umat Muslim atas apa yang terjadi di Eropa terkait aksi terorisme yang dilakukan kelompok Islam radikal.

    Dalam manifesto tersebut, Brendon Tarrant sengaja pindah dari Australia ke Selandia Baru dengan membuat perencanaan dan latihan selama dua tahun untuk serangan itu. Selandia Baru dipilih secara khusus menimbang citra negara tersebut sebagai tempat teraman di dunia. Dalam pernyataan yang dia unggah sebelum penyerangan, Brendon mengatakan bahwa dia hanya pria kulit biasa yang sedang mengambil tindakan untuk keberlangsungan hidup kaumnya. Tindakannya pun dihubungkan dengan serangan teror di Stockholm dan ketegangan rasial di Balkan. Dalam unggahan-unggahannya di media sosial, Brendon Tarrant mengaku dirinya terinspirasi oleh Anders Behring Breivik, seorang pembunuh rasialis asal Norwegia.

Bangkitnya Ideologi Ekstimis Sayap Kanan?
Insiden penembakan di Christchurch menyiratkan pertanyaan lanjutan, apakah ekstrimisme kanan tengah bangkit? Atas pertanyaan tersebut, Paul Spoonley, seorang profesor dari Massey University sekaligus anggota dari The Royal Society Selandia Baru menganalisis bahwa kelompok sayap kanan hanyalah bagian kecil dari spektum kehidupan sosial-politik di Selandia Baru. Dalam kasus penembakan terhadap jamaah di dua masjid dan isi manifesto dari pelaku, tampak betul bahwa kaum ultra-nasionalis penganut supremasi kulit putih meramu ideologi kekerasannya dari berbagai isu di belahan dunia lain. Spoinley menandaskan bahwa alih-alih melihat dalam persoalan domestik Selandia Baru atau Australia, kelompok sayap kanan mengambil berbagai peristiwa terorisme di seluruh dunia untuk dikaitkan dengan kelompok mereka (supremasi kulit putih) sebagai sebuah stimulus untuk perjuangan mereka.


Suara Teroris dan Senator Tidak Mewakili Suara Mayoritas
Atas insiden yang menimpa minoritas Muslim, Perdana Menteri Jacinda Ardern mengutuk penembakkan massal di dua masjid di Christchurch sekaligus memberikan rasa belasungkawa mendalam terhadap para korban. Ardern menyebut penembakan tersebut sebagai serangan teroris dan belum pernah terjadi sebelumnya. Ardern pun langsung mengunjungi perwakilan pengungsi di Pusat Pengungsian Centerbury yang menampung para imigran, umumnya dari negara Timur Tengah. Dia pun bertemu dengan perwakilan warga dan komunitas muslim Christchurch di Hagley College.
Dalam kunjungannya untuk bertemu para korban, perdana menteri berusia 38 tahun itu mengenakan kerudung dan memberikan memberikan simpati dan dukungan kepada para korban dan meyakinkan pada imigran bahwa negara hadir untuk membantu mereka. Di tengah komunitas muslim Christchurch, Ardern berjanji akan merevisi undang-undang yang mengatur kepemilikan senjata api di negaranya. Menurut dia, soal UU kepemilikan senjata inilah yang menjadi celah bagi Brenton Tarrant untuk melakukan aksi biadabnya. Pelaku teror diketahui memegang linsensi kepemilikan senjata kategori A sejak tahun 2017. Dengan lisensi yang dimiliki itu, dia membeli lima senjata api. Ardern pun memerintahkan jajaran intelijen dan kepolisian untuk memperketat pengawasan dan penjagaan, termasuk di media sosial terkait aktivitas kelompok-kelompok ekstrimis, utamanya sayap kanan. Pengawasan dan pemantauan di media online. Lolosnya Brenton Tarrant menjadi alarm untuk memperbaiki kinerja aparat keamanan di negeri harmonis tersebut. Pasalnya, Ardern mengungkap bahwa intelijen Selandia Baru dan Australia tak mendeteksi Tarrant sebagai orang yang berbahaya.
Di Australia, seorang senator dari Queensland, Fraser Anning, secara tersirat justru ikut menyalahkan para imigran atas kasus penembakan yang terjadi di Selandia Baru. Dalam pernyataan resminya sebagai senator,Fraser  Anning mengatakan bahwa insiden tersebut diakibatkan oleh kebijakan negara soal imigran Muslim. “Penyebab kejadian berdarah hari ini di Selandia karena program pemerintah yang mengizinkan Muslim fanatik pindah ke Selandia Baru.” Sang senator menandaskan pernyataannya bahwa dalam kasus insiden penembakan di Christchurch, Muslim seyogyanya tidak hanya diposisikan sebagai korban, tetapi juga sebagai pelaku. Dia menyalahkan pembunuhan massal di dua masjid di Selandia Baru kepada seluruh umat Islam. Fraser Anning menulis dalam akun media sosialnya, “apakah ada yang masih membantah hubungan antara imigran Muslim dan kekerasan?”  
Pernyataan Senator Fraser Anning yang menyalahkan Muslim atas tragedi penembakan massal seketika menuai kecaman, tidak terkecuali dari Perdana Menteri Australia Scott Morrison. Senator Fraser Anning menurut dia, tidak mewakili Australia, bahkan di Twitter, Morrison menyebut pernyataan Senator Fraser Anning yang menyalahkan serangan mematikan oleh teroris ekstremis sayap kanan di Selandia Baru pada “imigrasi” sebagai tindakakn menjijikkan. Pandangan itu menurut Morrison tidak punya tempat di Australia, apalagi di Parlemen Australia. Perdana Menteri Australia menegaskan tidak ada ruang sama sekali di Australia untuk kebencian dan intoleransi yang telah menyebabkan kekerasan ekstremis. Menurutnya, Australia dan Selandia Baru adalah rumah bagi semua agama, budaya, dan latar belakang.

Kebangkitan Ekstrimisme Sayap Kanan dan Persoalan Imigrasi Global
Meskipun publik dan para politisi mengecam senator Queensland, Fraser Anning yang menyalahkan imigrasi Muslim atas penembakan di masjid Christchurch, namun pernyataan Anning tersebut bisa ditarik dalam isu imigrasi yang menjadi persoalan mutakhir di Australia dan Selandia Baru dewasa ini. Pernyataan Anning bisa ditempatkan dalam frame ketakutan yang semakin besar akan kehadiran imigran Muslim yang meningkat tajam. Merujuk pada The Journal of Muslim Minority Affairs tahun 2017, jumlah penduduk Muslim Selandia Baru diperkirakan meningkat dua kali lipat pada tahun 2030 dengan pupulasi menembus 100 ribu jiwa. Itu pun dengan catatan tidak adanya pendatang baru dari luar Selandia Baru. Presentase bisa berubah akibat dari masalah krisis imigrasi global.
Kekacauan yang terjadi di berbagai belahan dunia, utamanya Timur Tengah membuat banyak penduduknya mencari suaka untuk mendapatkan perlindungan dan kehidupan. Negara-negara aman dan sejahtera pun menjadi tujuan mereka dalam beberapa tahun belakangan. Australia, Kanada, dan bukan tidak mungkin Selandia Baru menjadi tempat tujuan favorit dari para imigran dari Timur Tengah dan Asia Tengah. Arus imigran tidak bisa dilepaskan dari konteks global.    
    Di Australia sendiri, persoalan imigran setiap tahunnya menjadi perdebatan politik dan hampir selalu dibahas dalam APBN negara tersebut, termasuk adanya pandangan politik untuk membatasi jumlah imigran yang diterima Australia. Program imigrasi di Australia digodok setiap tahunnya melalui proses anggaran pemerintah Australia. Berdasarkan keterangan dari pejabat Departemen Dalam Negeri Australia kepada kantor berita ABC, pada tahun 2018, batas kuota untuk program imigrasi ditetapkan sebesar 190.000, dan tidak berubah pada tahun anggaran 2019. Dari angka 190 ribu tersebut, 128 ribu akan diperuntukkan bagi migran terampil untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, memecahkan masalah kekurangan teknologi, dan meningkatkan keragaman sosial dan multikulturalisme.
    Imigrasi saat ini menjadi isu panas di Australia, terlebih menjelang pemilu federal sekitar bulan Mei 2019.  Pemerintahan Scott Morrison sendiri pada tahun 2018 yang lalu berencana untuk mengetatkan kebijakan imigrasi untuk membatasi jumlah pendatang ke negaranya. Mereka juga akan membuat mekanisme agar para imigran tidak tinggal di kota-kota besar seperti Sydney, Melbourne dan Brisbane setidaknya untuk beberapa tahun dalam upaya mengatasi kepadatan penduduk perkotaan dan pemerataan pembangunan. 

Penutup
Dalam kasus insiden teror di Selandia Baru, aksi pelaku dikaitkan dengan isu imigran dan supremasi kulit putih yang terganggu dengan melonjaknya jumlah pendatang dari negeri-negeri Muslim ke negara mereka. Gejala imigran yang saat ini massif datang ke negara-negara Barat kemudian dikombinasikan dengan dinamika politik tertentu, misalnya berkaitan dengan kelompok sayap kanan di Australia atau Selandia Baru, mereka menggunakan peristiwa tersebut sebagai salah satu alasan untuk agenda perjuangan mereka. Dalam konteks Selandia Baru, isu imigran menjadi isu tersendiri mengingat negara kepulauan tersebut memiliki populasi relatif kecil 4,5 juta jiwa (estimasi Juli 2017) jika dibandingkan dengan luas wilayah negara tersebut yaitu 268.838 km2, bahkan jumlah biri-biri di sana lebih banyak dari manusia. Kedatangan massif imigran, terlebih dari negara Muslim, akan mengubah komposisi dan prosentase penduduk Selandia Baru, belum lagi kehidupan sosial, budaya, dan politik mereka. Hal itulah yang menjadi dalil untuk disemai dan dikampanyekan kelompok sayap kanan di Selandia Baru. Ada kemungkinan, program imigrasi ke Selandia Baru atau Australia mulai didominasi dengan latar belakang imigran Muslim atau Timur Tengah.
    Arus atau kondisi migrasi sendiri sebenarnya wajar dengan memerhatikan situasi global saat ini. Kekacauan yang terjadi di negara-negara Arab dan Afrika menyebabkan masalah tersendiri bagi dunia internasional, yaitu “Krisis Imigrasi Global”. Ada kemungkinan, kesiapan gejala baru tersebut tidak sepenuhnya berjalan dengan smooth, apalagi ketika itu dikaitkan dengan fakta global soal kekerasan yang dikaitkan dengan Islam/Timur Tengah/ekstrimis Islam cukup kuat.
    Dalam fenomena atau gejala global tersebut, diperlukan kerjasama global pula untuk memecahkannya. Persoalan terorisme, imigrasi, dan kekacauan global, akan sulit diatasi secara partikular oleh satu negara atau intelijen dan kepolisian negara tertentu semata.

Name

38 Setia,148,Berita Pilihan,4,figur bicara,37,LUAR NEGERI,19,Nasional,415,Sejarah,9,Tips,17,Umum,46,
ltr
item
38 Setia: Teror di Selandia Baru: Persoalan Islamophobia atau Imigran?
Teror di Selandia Baru: Persoalan Islamophobia atau Imigran?
https://3.bp.blogspot.com/-5w4v0dm1VQc/XI8QfrbasYI/AAAAAAAALlk/Mh_-Ha5YyD8g1ZGFnncHDtfjl3_1arMtQCLcBGAs/s640/IMG-20190316-WA0044.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-5w4v0dm1VQc/XI8QfrbasYI/AAAAAAAALlk/Mh_-Ha5YyD8g1ZGFnncHDtfjl3_1arMtQCLcBGAs/s72-c/IMG-20190316-WA0044.jpg
38 Setia
http://www.38setia.com/2019/03/teror-di-selandia-baru-persoalan.html
http://www.38setia.com/
http://www.38setia.com/
http://www.38setia.com/2019/03/teror-di-selandia-baru-persoalan.html
true
1959138953113151983
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content